Prolog
Tanpa ragu, perempuan itu melangkah menyusuri gang sempit
yang hanya cukup untuk satu orang. Di tangan kanannya, sebuah tas jinjing
berisi pakaian digenggam erat, seolah menjadi pegangan terakhirnya. Rumah di
ujung gang mulai terlihat, membuat langkahnya bertambah cepat, meski tetap
berhati-hati. Setiap langkah terdengar berat, namun ada semangat yang menyusup
dalam hati, membimbingnya untuk terus maju meskipun bayang-bayang keraguan
sempat menggerayangi.
"Permisi, saya mau tanya
alamat—"
"Nuri?!
Ya ampun, elu udah pulang?" seru Heni penuh semangat,
suaranya seperti melompat-lompat, menyambut sahabatnya dengan riang. "Kirain masih lama! Baru aja gue mau jenguk elu bareng anak-anak."
Tanpa
ragu, Heni meletakkan sapu di dekat pintu, seakan melupakan pekerjaan yang
tengah dilakukannya. Tatapan antusiasnya tak lepas dari sahabatnya yang kini
berdiri di hadapannya, dan senyum lebar langsung terukir di wajahnya, meskipun
ada sedikit rasa cemas yang tersirat.
"Kelamaan, Hen. Gue di rumah sakit sendirian," sahut
Nuri datar, nada suaranya seperti mengandung banyak cerita yang tak terucapkan.
Heni
sedikit terkejut, tapi segera menjawab dengan nada menenangkan, "Ya gimana, dong? Pas dapet kabar elu lahiran, gue lagi di luar kota.
Begitu sampai sini, tadinya gue mau langsung ke rumah sakit, tapi pas tanya ke
anak-anak, katanya rumah elu sepi. Gue pikir mending langsung ke sini, takut
ada yang perlu diberesin buat kepulangan elu." Heni
mengernyitkan dahi, seolah menunggu reaksi sahabatnya.
Nuri memutar bola matanya dengan malas, dan setengah tertawa,
"Ini gue yang punya rumah, tapi enggak dikasih masuk
dulu?" nada itu keluar dengan sedikit gurauan yang lebih
kepada kelelahan.
Heni terkekeh ringan, merasa sedikit bersalah, namun dengan
sigap mempersilakan Nuri masuk. Tanpa berpikir panjang, Heni meraih tas jinjing dari tangan Nuri. "Anak elu taruh aja di
kamar, Nur. Tempat tidurnya udah gue bersihin, udah gue lapisin kain dari
lemari elu juga. Maaf, ya, kalau gue lancang." Heni berbicara dengan hati-hati, takut-takut jika
tindakannya terlalu mengganggu.
"Enggak apa-apa, Hen.
Justru kalau enggak ada elu, gue bisa kerepotan. Makasih, ya, udah beresin
rumah gue." Nuri tersenyum tipis, rasa terima kasih
tersembunyi di balik kata-katanya yang terkadang terdengar tegas. Meski lelah, Nuri merasa sedikit lebih tenang dengan kehadiran sahabatnya
yang selalu siap membantu.
Nuri melangkah masuk ke kamar, hatinya terasa hangat melihat
bagaimana rumahnya seolah kembali hidup setelah lama ditinggalkan. Dengan
hati-hati, Nuri membaringkan bayi mungil yang
sedari tadi berada dalam dekapannya. Senyum kecil terbit di wajahnya melihat
betapa rapi ranjang yang dulu sempat ditinggalkan dalam keadaan berantakan.
Semua hal kecil seperti ini mengingatkannya pada rumah yang kembali menjadi
tempat yang aman.
"Nanti malam gue beliin
kelambu, deh, biar anak elu enggak digigit nyamuk. Sekalian gue beliin baju
sama perlengkapan mandinya," ujar Heni sambil bersandar di
ambang pintu, matanya tidak lepas dari Nuri, menunggu jawabannya.
"Enggak usah, Hen. Gue bisa
beli sendiri nanti." Nuri menjawab dengan tenang, mencoba
menghindari perhatian lebih, meski hatinya sedikit cemas tentang banyak hal.
"Beli sendiri? Terus anak
elu ditinggal sama siapa, Nur?" Nada suara Heni sedikit
mengeras, tapi tetap lembut, seperti menuntut penjelasan.
Nuri memiringkan kepalanya, lalu dengan sedikit kesal
menjawab, "Gue bawa."
Heni membelalakkan mata, hampir tak percaya dengan apa yang
baru saja didengar. "Elu gila? Bawa bayi baru
lahir keluyuran malam-malam?" Suaranya mengandung
kekhawatiran yang begitu mendalam, bahkan ada rasa cemas yang jelas tampak di
wajahnya.
"Terus mau gimana lagi?
Kalau enggak gue bawa, nanti anak gue sama siapa?" Jawaban
Nuri datar, tetapi ketegangan tersirat jelas di setiap kata-katanya.
Heni mendesah kasar, bingung dengan sikap sahabatnya. "Udah, gue yang
pergi. Elu di rumah aja. Baru lahiran, masa malah keluyuran?" Nada Heni
terdengar lebih tegas, seolah tak memberi ruang untuk perdebatan.
•••
Selama hidupnya, banyak hal kecil yang
seharusnya bisa disyukuri Nuri. Namun, di tengah segala kesulitan yang dihadapi,
rasa syukur itu terkadang tertutup oleh beban yang menumpuk di pundaknya.
Nuri pernah bermimpi memiliki kehidupan yang lebih mudah —tidak harus selalu
berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu, tidak harus merasa bersalah saat
menerima bantuan dari orang lain. Namun kenyataan membentuknya menjadi sosok
yang terbiasa berjuang sendiri, hingga kata terima kasih pun kadang terasa
begitu berat untuk diucapkan.
Tatapannya jatuh pada bayi kecil yang tertidur
pulas di ranjang. Kehangatan menjalar di hatinya, bercampur dengan sedikit
kecemasan tentang hari esok. Nuri menghela napas perlahan, lalu menoleh
ke arah Heni yang duduk di sebelahnya.
"Mahal, Hen?" tanyanya ragu.
"Enggak usah dipikirin. Anggap aja
kado lahiran dari gue."
"Gaya banget, deh. Kayak punya duit
aja, kasih gue kado segala. Udah, nanti gue gantiin aja."
"Sekali gue bilang enggak, ya,
enggak, Nuri." Tatapan Heni tajam, penuh ketegasan.
Nuri hanya bisa tersenyum kecil. Selama
ini, Heni sudah banyak membantunya —lebih dari yang bisa dihitung.
"Terus ada yang kurang enggak? Biar
besok gue sekalian beli," lanjut Heni.
Seakan sudah siap dengan pertanyaan itu,
Heni mengeluarkan selembar kertas catatan dan memeriksa tanda cek lis yang telah
dibuat.
"Cuma kain gendongan aja. Gue ke
toko langganan tadi, tapi udah tutup. Besok aja, ya?"
Nuri mengangguk pelan. "Masih ada
kain ganti yang lain, kok."
"Ya udah, itu mah gampang."
Heni lalu mengambil bayi mungil dari
ranjang dan menggendongnya dengan penuh kasih, sebelum menatap wajah kecil itu
dengan kagum.
"Anak elu ganteng juga, Nur."
"Iyalah. Siapa dulu ibunya."
"Ah, elu mah!"
Dari tempat duduknya, Nuri hanya bisa
tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya. Meski malam semakin larut, Heni
masih enggan beranjak, memastikan semuanya baik-baik saja sebelum meninggalkan
rumah Nuri.
Pelan-pelan, Nuri bergeser dan duduk di
sebelah Heni, lalu mengambil kembali putranya. Dengan penuh hati-hati, Nuri menggendong buah hatinya, mengusap pipi kecilnya dengan lembut.
"Radu Wirawan Abimanyu,"
bisiknya. "Anak ibu yang paling tampan dan kuat. Selamat datang di dunia,
putranya ibu."

Komentar
Posting Komentar