Prolog
Tanpa ragu, perempuan itu melangkah menyusuri gang sempit yang hanya cukup untuk satu orang. Di tangan kanannya, sebuah tas jinjing berisi pakaian digenggam erat, seolah menjadi pegangan terakhirnya. Rumah di ujung gang mulai terlihat, membuat langkahnya bertambah cepat, meski tetap berhati-hati. Setiap langkah terdengar berat, namun ada semangat yang menyusup dalam hati, membimbingnya untuk terus maju meskipun bayang-bayang keraguan sempat menggerayangi. "Permisi, saya mau tanya alamat—" " Nuri?! Ya ampun, elu udah pulang? " seru Heni penuh semangat, suaranya seperti melompat-lompat, menyambut sahabatnya dengan riang. " Kirain masih lama! Baru aja gue mau jenguk elu bareng anak-anak. " Tanpa ragu, Heni meletakkan sapu di dekat pintu, seakan melupakan pekerjaan yang tengah dilakukannya. Tatapan antusiasnya tak lepas dari sahabatnya yang kini berdiri di hadapannya, dan senyum lebar langsung terukir di wajahnya, meskipun ada sedikit rasa cemas ...